Isu perselingkuhan seorang influencer perempuan masih ramai diperbincangkan di media sosial. Suaminya pun angkat bicara melalui unggahan di Instagram Stories, menyatakan rasa syukur atas dukungan orang-orang di sekitarnya dan menegaskan bahwa dirinya baik-baik saja meski menghadapi tekanan rumah tangga.
Publik pun berspekulasi, salah satu pemicu konflik bisa berasal dari masalah finansial. Lantas, apakah benar masalah ekonomi bisa meretakkan rumah tangga?
Finansial Lebih dari Sekadar Uang
Psikolog klinis dewasa, keluarga, dan pernikahan, Nadya Pramesrani, menjelaskan bahwa isu finansial dalam hubungan tidak hanya soal siapa yang berpenghasilan lebih besar. "Faktor ekonomi itu bukan hanya nominal, tapi berkaitan dengan rasa aman dan stabilitas. Setiap orang memiliki kebutuhan akan sense of security and stability," ujarnya.
Ia menambahkan, rasa aman dan stabilitas sering diwakili oleh kondisi finansial yang stabil dalam konteks hubungan. Jika salah satu pasangan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan ini, baik secara finansial maupun bentuk dukungan lain, interaksi pasangan bisa terdampak.
Budaya dan Ekspektasi Terhadap Laki-Laki
Dalam budaya Indonesia, masih kuat pandangan bahwa laki-laki berperan sebagai kepala keluarga sekaligus penyedia utama. Ketika situasi berbalik, misalnya perempuan memiliki penghasilan lebih tinggi, dinamika hubungan bisa berubah. Sebagian laki-laki mungkin merasa kehilangan peran, sementara perempuan bisa terbebani oleh ekspektasi yang tidak sesuai keinginannya. Nadya menjelaskan, hal ini membuat pasangan punya harapan bahwa pihak lain dapat memberikan rasa aman dan stabilitas.
Belajar dari Pasangan Selebriti
Kasus pasangan beda negara yang sering membagikan momen keluarga menunjukkan, konflik rumah tangga yang dipicu masalah finansial bisa terjadi pada siapa saja. Kuncinya bukan siapa yang lebih kaya, tapi seberapa terbuka pasangan dalam membicarakan rasa tidak aman dan mengelola ketidakstabilan bersama-sama.
"Jadi bukan sebatas nominal saja ketika bicara terkait isu finansial," ujar Nadya. Dengan komunikasi terbuka, pasangan dapat memperkuat hubungan dan menghadapi tantangan bersama, meski dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu ideal.
