Dibuli Mertua? 3 Cara Psikolog Menyembuhkan Trauma yang Bisa Anda Coba

Jakarta - Hubungan antara mertua dan menantu kerap diwarnai dinamika yang kompleks, bahkan tidak jarang meninggalkan luka emosional yang dalam—khususnya bagi pihak menantu. Ketika mertua menunjukkan perilaku atau mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, dampaknya bisa bertahan lama dan memengaruhi kesehatan mental, meskipun pasangan kita sudah berusaha membela.

Di tengat budaya Indonesia yang menuntut interaksi harmonis dengan keluarga besar, menghindari mertua seringkali bukan pilihan. Lalu, bagaimana cara mengatasi trauma emosional yang disebabkan oleh hubungan yang sulit ini?

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu, berdasarkan perspektif psikolog:

1. Akui dan Validasi Perasaan Anda Langkah pertama dan terpenting adalah mengizinkan diri Anda merasakan semua emosi yang muncul—tanpa menyangkal atau mengabaikannya. Merasa sedih, kecewa, atau terluka adalah hal yang wajar. “Saat seseorang menyakiti kita, wajar jika kita merasa tidak nyaman. Jangan memaksakan diri untuk baik-baik saja,” ujar seorang ahli psikologi. Dengan mengakui perasaan, kita memberi diri kesempatan untuk memproses emosi secara sehat.

2. Jaga Batasan yang Sehat Anda berhak menentukan batasan dalam berinteraksi dengan mertua. Tidak semua komentar atau perilaku harus diterima. Cobalah komunikasikan dengan sopan namun tegas, atau batasi intensitas pertemuan jika diperlukan. Yang terpenting adalah melindungi kesejahteraan mental Anda.

3. Cari Dukungan dari Pasangan atau Lingkaran Terdekat Bicarakan perasaan Anda kepada pasangan, sahabat, atau keluarga inti yang dapat dipercaya. Dukungan emosional dari orang terdekat dapat meringankan beban dan membantu Anda merasa tidak sendirian.

4. Luangkan Waktu untuk Self-Care Trauma emosional membutuhkan proses penyembuhan. Beri diri waktu untuk melakukan aktivitas yang menenangkan dan menyenangkan, seperti meditasi, menulis jurnal, atau menekuni hobi.

5. Pertimbangkan Bantuan Profesional Jika luka emosional sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau konselor. Terapi dapat membantu Anda memahami dan memulihkan luka tersebut dengan pendekatan yang tepat.


Hubungan keluarga memang rumit, namun Anda tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Yang terpenting, ingatlah bahwa kesehatan mental Anda adalah prioritas.

watch Watch AD
Unlock More
Can Vijay be the Next MGR in Tamil Nadu Elections?
Can Vijay be the Next MGR in Tamil Nadu Elections?
A huge poster of actor Vijay stares down from the wall. A digital signboard flashes: 285 days, 3 hours, 43 minutes and 46 seconds, a countdown to the 2026 assembly election in Tamil Nadu. Scores of people sit glued to screens, fingers flying over keyboards, some others are on mobile phones trying to reach voters in remote hamlets. The Tamizhaga Vettri Kazhagam (TVK) war room in Chennai is fully activated.
Man Loses Leg in 'Phatka Gang' Attack on Moving Train in Kalyan
Man Loses Leg in 'Phatka Gang' Attack on Moving Train in Kalyan
KALYAN: A 22-year-old farmer from Nashik suffered a partial amputation of his left leg after being hit by the notorious 'Phatka gang' near Kalyan. The incident occurred on Sunday morning while Gaurav Nikam was travelling on the Tapovan Express from Thane to Nashik. According to Kalyan GRP, the incident happened between Shahad and Ambivli railway stations when the train slowed down near Irani Pada. Nikam was on a phone call near the train door when a minor boy from outside struck his hand with a
Allegations of Fraudulent Surrogacy Practices Surface at Hyderabad Fertility Clinic
Allegations of Fraudulent Surrogacy Practices Surface at Hyderabad Fertility Clinic
HYDERABAD: Gopalapuram police have registered five new cases against the head of Srushti Fertility Clinic Dr Athaluri Namratha alias Pachipala Namratha, and others based on complaints lodged by five sets of victims. While in one case a couple alleged that the doctor handed them a baby whose DNA did not match theirs, three other couples accused the clinic of adopting dubious methods. They claimed that they had already paid the money — anywhere from Rs 12.5 lakh to Rs 19 lakh — and even deposited their biological samples when they grew suspicious about the operations of Dr Namratha and her clinic. The frauds occurred between 2019 and 2025. Cops are yet to ascertain details of the fifth case.